Sunnah dan Bid`ah

Sering kali terdengar oleh kita perdebatan seputar hal bid’ah dan sunnah, bahkan perdebatan ini menjurus pada perpecahan. Padahal tidak harus demikian, justru perbedaan itu adalah rahmat, asalkan kita mau berlapang dada. Oleh karenanya menjadi penting bagi umat muslim untuk mengetahui apakah bid’ah itu, dan bid’ah seperti apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan?

Baca lanjutannya

K.H. Ali Imron (alm), Bijaksana adalah Utama

K.H. Ali Imron lahir pada hari rabu  15 Oktober 1936  dan merupakan putra ke empat dari Sembilan bersaudara pasangan mama K.H. Muhammad Faqih dan Hj. Maryamah, beliu menikah dengan Hj. Ido Hamidah  salah satu putri dari K.H. Ruhiyat pengasuh Pondok Pesantren Cipasung, atau tepatnya saudari kandung K.H. Ilyas Ruhiat, Rais `Am NU 1991-1999, dan dari pernikahannya tersebut beliau dikaruniai 7 orang putra dan 4 orang putri , yaitu:

Baca lanjutannya

Membaca Shalawat Untuk Nabi

Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah.

Baca lanjutannya

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Makna Bid`ah

Statemen yang menyatakan bahwa perayaan maulid Nabi (baca Sunda: muludan) adalah amalan bid’ah, merupakan pernyataan yang sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak memiliki landasan hukum sama sekali, baik dari Al-Qur’an maupun as-Sunah. Adapun muludan, walaupun sesuatu yang baru dalam Islam, akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur’an dan as-Sunah.

Baca lanjutannya

Lebih Jauh tentang NU

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan (jam’iyah diniyah islamiah) yang berhaluan Ahlu Sunnah wal-Jamaah. Organisasi ini didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 oleh K.H. Hasyim Asy’ari beserta para tokoh ulama tradisional dan usahawan di Jawa Timur. Sejak awal K.H. Hasyim Asy’ari duduk sebagai pimpinan dan tokoh agama terkemuka di dalam NU. Tetapi tidak diragukan bahwa penggerak di balik berdirinya organisasi NU adalah Kiai Wahab Chasbullah putra Kiai Chasbullah dari Tambakberas Jombang.

Baca lanjutannya

Anggaran Dasar NU

Alhamdulillah Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama di Makasar tahun 2010 berhasil menyempurnakan AD/ART yang selama ini dirasa masih butuh adanya penyempurnaan. Dengan adanya ketetapan yang baru ini maka NU telah memiliki dasar, arah dan tujuan yang lebih jelas sehingga NU diharapkan menjadi organisasi yang tidak saja tertib dalam berorganisasi, tetapi juga jelas dalam menyikapi berbagai masalah. Ketetapan yang baru ini juga berfungsi sebagai pedoman dalam merumuskan dan menjalankan program kerja organisasi, karena semuanya telah ada petunjuk yang jelas dan pasti.

Baca lanjutannya

Sejarah Kelahiran NU

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Baca lanjutannya