PC NU Kabupaten Bandung
Maslahat Tradisi dan Inovasi

Peningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa dengan Pembelajaran Konstektual

Saepuloh*

*SMPN 2 Arjasari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung (Sekretaris PERGUNU Kab. Bandung).

E-mail: awis.saepuloh@gmail.com

Abstrak

Artikel ini melaporkan hasil temuan tentang peningkatan motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran kontekstual. Disain penelitian berbentuk pretes-postes control goup design. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan soal uraian dan angket motivasi dengan skala likert. Penelitian ini menemukan bahwa nilai siswa dengan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional sebesar 16,07 %.  Motivasi belajar siswa dengan pembelajaran kontekstual juga terlihat meningkat walaupun tidak terlalu besar.

Kata kunci : motivasi belajar, kemampuan pemecahan masalah matematis,  pembelajaran konstektual 

PENDAHULUAN

Pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika. Sebagaimana dalam Standar Isi Mata Pelajaran Matematika (Depdiknas, 2006: 346) bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, effisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika di salah satu SMPN di Kabupaten Bandung, diperoleh data bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika terutama pokok bahasan bangun ruang mereka sangat lemah dalam pemecahan masalah bangun ruang terutama masalah-masalah yang konstektual. Selain itu tingkat kehadirannya sangat rendah, bahkan ketika ulangan atau ujian pun ada yang bolos sekolah, alasan mereka tidak sekolah bervariatif mulai dari sakit, membantu orang tua bekerja, ada yang menjawab malas, dan ada juga yang gak dikasih bekal sama orang tuanya.

Untuk itu diperlukan upaya yang disengaja oleh guru untuk memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, yang dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengaekspresiasiasikan ide mereka tersebut. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang dipilih oleh guru dalam proses pembelajaran harus dapat menumbuhkan motivasi belajar pada peserta didik, sehingga mereka lebih bersemangat dan bergairah untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam pembelajaran matematika adalah pembelajaran konstektual.

Uraian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peranan pembelajaran konstektual dalam peningkatan motivasi belajar dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Uraian ini juga mengkaji bagaimana hubungan antara motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

METODE

Penelitian ini merupakan Studi eksperimen dengan desain “Pretes dan protes sebuah kelompok”. Pada penelitian ini pengambilan sempel dilakukan secara acak kelompok (random cluster sampling). Penggunaan desain ini di lakukan dengan pertimbangan bahwa kelas yang ada telah terbentuk sebelumnya dan memiliki karakteristik yang sama, sehingga tidak di ragukan lagi pengelompokan secara acak. Pembentukan  kelas baru  hanya akan menyebabkan kacaunya jadwal pelajaran yang telah ada di sekolah tempat penelitian.

Langkah awal untuk menentukan unit–unit eksperimen dilakukan dengan memilih sekolah, kemudian memilih dua kelas yang setara di tinjau dari kemampuan akademiknya. Kelas yang pertama melakukan contextual teaching and learning (Kelas Eksperimen) dan kelas yang kedua dengan pembelajaran konvensional (kelas kontrol).

Pada desain ini, setiap kelompok masing-masing diberi pretes serta angket dan setelah di beri perlakuan di ukur  dengan postes dan angket.  Hal ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan  pemecahan masalah matematis dan motivasi belajar siswa.

Sampel

Penelitian ini di laksanakan  di SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung dengan populasi seluruh siswa kelas VIII tahun  ajaran 2011/2012 yang terdiri dari 4 kelas. Di pilih siswa kelas VIII dengan  asumsi bahwa mereka  sudah dapat beradaptasi dengan model pembelajaran baru dan tidak mengganggu program sekolah untuk menghadapi ujian akhir.

Pemilihan  sampel   dilakukan  dengan  teknik  Randomized Cluster Sampling, yaitu  memilih  secara acak dari kelompok – kelompok atau Cluster (kelas – kelas ) yang  ada  dalam  populasi. Dari empat kelas tersebut di pilih dua kelas secara acak untuk menjadi sampel penelitian. Untuk  memilih  sampel   tersebut  digunakan  cara  acak  kelas. Dilakukan dengan cara acak agar setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk  terpilih menjadi sampel, dan  agar  pemilihan sampel ini terhindar dari hal – hal yang  bersifat  subjektif. Pemilihan  dilakukan dengan cara mengundi, dan ternyata  pemilihan jatuh pada kelas VIII- C, dan VIII- D. Dari kedua kelas ini di pilih lagi  secara  acak  untuk  menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan cara   diundi terpilih kelas VIII-C dengan jumlah siswa 40 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-D dengan jumlah siswa 40 orang sebagai kelas  kontrol.

Berdasarkan hasil perhitungan rerata dua sampel dengan uji-t,  diperoleh nilai thitung = -0,510, dengan ttabelpada signifikan 0,05 : 2 = 0,025 (uji dua pihak) dengan derajat kebebasan (df) = 78, maka diperoleh ttabel= 1,66 . karena -1,66 ≤ -0,510 ≤ 1,66 dan -1,66 ≤ -0,387 ≤ 1,66, maka Ho diterima. Dengan demikian motivasi belajar dan kemampuan awal pemecahan masalah matematis antara kedua kelas tersebut sama (tebel 1).

Instrumen

Untuk memperoleh data dalam penelitian ini dilakukan dua macam instrumen, yang terdiri dari angket mengenai motivasi belajar siswa dan soal uraian yang mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Angket ini bertujuan untuk melihat motivasi belajar siswa selama proses pembelajaran konstektual. Angket ini menggunakan skala Likert, dengan pilihan jawaban SS (Sangat Setuju), S (Setuju), N (Tidak memutuskan/tidak tahu), TS (Tidak Setuju), dan STT (Sangat Tidak Setuju). Pilihan jawaban N (Tidak memutuskan/tidak tahu) sengaja digunakan untuk mengakomodir semua sikap siswa, karna apapun pernyataan siswa harus dihargai.

Tes digunakan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, baik sebelum (pretes) maupun sesudah perlakuan diberikan perlakuan (Postes). Penyusunan soal tes kemampuan pemecahan masalah dalam penelitian ini mengacu pada materi pelajaran matematika SMP/MTs kelas VIII Kurikulum Tngkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang digunakan oleh SMPN 2 Arjasari. Perangkat soal untuk tes kemampuan pemecahan masalah berbentuk uraian yang   terdiri dari 5 soal, hal ini di maksudkan agar proses pengerjaan  tes dapat menggambarkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, karena    tes uraian menurut siswa berpikir secara sistematis dalam memahami masalah, bebas dalam memilih dan menjalankan strategi serta menyampaikan pendapat dan argumentasi.

Untuk mengetahui tingkat validitas angket melihat pada Corrected Item-Total Correlation yang merupakan korelasi antara skor item dengan skor total item (nilai r hitung) dibandingkan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 0,05. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut: (a) jika rhitung ≥ rtabel, maka instrumen atau item-item pernyataan berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid); (b) jika rhitung < rtabel, maka instrumen atau item-item pernyataan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan tidak valid). Berdasarkan hasil perhitungan nilai validitas, dapat diketahui bahwa dari 50 item, item yang valid adalah sebanyak 27 item.

Pengujian Reabilitas angket kita lihat nilai korelasi Guttman Split-Half Coefficient = 0,824. Korelasi berada pada kategori sangat kuat. Bila dibandingkan dengan r table (0,468) maka r hitung  lebih besar dari r tabel . Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa angket tersebut realibel dengan derajat reabilitas tinggi.

Berdasarkan uji validitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran instrumen tes kemampuan pemecahan masalah, dari 5 soal yang diuji, semuanya dapat dipakai. Uji reabilitas instrumen tes kemampuan pemecahan masalah menggunakan program Anates Uraian, diperoleh reabilitas instrumen tes kemampuan pemecahan masalah matematis secara keseluruhan r11=0,82 (kategori reabilitas tinggi).

Prosedur riset

Pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pembelajaran dengan pembelajaran konstektual pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol sebanyak 10 kali pertemuan. Pengembangan bahan pengajaran diawali dengan memperhatikan standar kompetensi dan cakupan materi. Materi yang dikembangkan adalah bangun ruang  sisi datar.

Pada kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran konstektual diberikan melalui lembar kegiatan siswa (LKS). Penugasan yang diberikan dalam LKS mempasilitasi siswa untuk dapat melakukan proses penemuan, mengkonstruksi sendiri pengetahuan siswa, melakukan kegiatan bertanya sehingga dapat menciptakan suasana masyarakat  belajar di dalam kelas. Pada kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional digunakan buku paket yang telah tersedia di sekolah.

Pelaksanaan penelitian melalui beberapa tahap sebagai berikut: (1) Pemberian angket untuk mengetahui motivasi belajar dan pretest untuk kemampuan awal siswa, (2) Proses pembelajaran dengan CTL untuk kelas eksperimen dan konvensional untuk kelas kontrol, (3) Pemberian angket untuk mengetahui motivasi belajar siswa setelah pembelejaran serta post-test untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa setelah pembelajaran, (4) Pengolahan serta analisis data.

HASIL PENELITIAN

Motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah  pembelajaran

Rata-rata indeks motivasi belajar siswa yang memperoleh pembelajaran konstektual adalah 100.95 lebih tinggi dibanding indeks rata-rata motivasi belajar siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional 91.85. Sementara itu, rata-rata pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran konstektual adalah 16.08 lebih tinggi dibanding siswa dengan pembelajaran konvensional, yaitu 13.48 (tabel 2).

Uji normalitas sebaran data skor postes digunakan uji kenormalan dengan uji Kolmogrov-Smirnov menggunakan SPSS 17,0 pada taraf signifikansi α = 0,05, dengan kriteria: jika sig > 0,05, maka sebaran data berdistribusi normal (tebel 3). Untuk uji homogenitas varians data angket dan skor postes menggunakan uji lavene pada taraf signifikansi α = 0,05. dengan hasil perhitungan diperoleh bahwa kelas kontrol dan kelas eksperimen semuanya homogen (tabel 4).

Selanjutnya untuk membuktikan bahwa kemampuan akhir kelas dengan pembelajaran konstektual lebih baik dari pada kelas konvensional, dilakukan uji perbedaan rata-rata. Jenis statistik uji perbedaan rata-rata yang digunakan disesuaikan dengan uji normalitas dan uji homogenitas.

Perhitungan uji-t untuk dua sampel (independent sample t-tets) menggunakan SPSS 17,0 pada taraf signifikansi α = 0,05 untuk menguji hipotesis Ho dan tandingannya Hasebagai berikut:

Ho    : tidak terdapat perbedaan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen,

Ha   : terdapat perbedaan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Berdasarkan hasil perhitungan rerata dua sampel dengan uji-t yang disajikan homogen maka menggunakan Equal variances assumed. Karena ttabelpada signifikan 0,05 : 2 = 0,025 (uji dua pihak) dengan derajat kebebasan (df) = 78, maka diperoleh ttabel= 1,66 . karena  –7.229 < -1,66, maka Ho ditolak artinya Ha diterima dan –4.094 < -1,66, maka Ho ditolak artinya Ha diterima  Dengan demikian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen (tabel 5).

Peningkatan motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa

Pada analisis pretes telah terbukti bahwa kemampuan awal antara kelas kontrol dan kelas eksperimen setara, dan pada analisis postes terbukti juga bahwa kemampuan akhir siswa kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Selanjutnya, untuk memperkuat analisis postes kita analisis skor N-Gain dengan membuktikan bahwa peningkatan kemampuan siswa kelas eksperimen juga lebih baik dari pada kelas kontrol. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dilihat dengan membandingkan skor pretes dan skor postes, yang dihitung dengan rumus g faktor (gain skor ternormalisasi).

Uji normalitas sebaran data N-Gain digunakan uji kenormalan dengan uji Kolmogrov-Smirnov pada taraf signifikansi α = 0,05, dengan kriteria: jika sig > 0,05, maka sebaran data berdistribusi normal. Hasil perhitungan uji normalitas sebaran data N-Gain kelas kontrol dan kelas eksperimen ditampilkan dalam tabel 6, didapat nilai signifikan pada setiap kolom untuk kelas kontrol dan eksperimen > 0,05. Hal ini berarti data N-Gain  peserta didik berdistribusi normal.

Untuk uji homogenitas varians skor menggunakan uji lavene pada taraf signifikansi α = 0,05. Hasil perhitungan disajikan dalam tabel 7, didapat bahwa varians data N-Gain kedua kelompok homogen. Untuk membuktikan bahwa peningkatan kemampuan siswa kelas eksperimen lebih dari pada kelas kontrol, dilakukan uji perbedaan rata-rata. Jenis statistik uji perbedaan rata-rata yang digunakan disesuaikan dengan uji normalitas dan uji homogenitas data tersebut.

Perhitungan uji-t untuk dua sampel (independent sample t-tets) pada taraf signifikansi α = 0,05 untuk menguji hipotesis Ho dan tandingannya Hasebagai berikut:

Ho    : tidak terdapat perbedaan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen, dan

Ha   : terdapat perbedaan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Berdasarkan kriteria pengujian jika –ttabel ≤ t hitung  ≤ t tabel , maka Hoditerima, dan jika –t hitung < - t tabel atau t hitung  ≥  ttabel , maka Ho ditolak.  Hasil perhitungan perbedaan peningkatan kemampuan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen ditampilkan pada tabel 8.

Berdasarkan hasil perhitungan rerata dua sampel dengan uji-t yang disajikan pada tabel 8, karena data N-Gain homogen maka menggunakan Equal variances assumed. Karena ttabelpada signifikan 0,05 : 2 = 0,025 (uji dua pihak) dengan derajar kebebasan (df) = 78, maka diperoleh ttabel= 1,66 . karena  –8,610 < -1,66, maka Ho ditolak artinya Ha diterima dan  –4,964 < -1,66 Dengan demikian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen

Korelasi antara Motivasi Belajar dengan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa

Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah siswa digunakan korelasi product moment. Uji korelasi yangdigunakan adalah uji Bivariate dengan SPSS 17,0 pada taraf signifikansi α = 0,05, untuk menguji hipotesis Ho dan tandingannya Hasebagai berikut:

Ho        : Motivasi belajar tidak mempunyai hubungan secara signifikan dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, dan

Ha   : Motivasi belajar mempunyai hubungan secara signifikan dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Berdasarkan kriteria pengujian jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan probabilitas sig. atau ( 0,05  ≤  sig ), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada hubungan yang signifikan. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probabilitas sig. ( 0,05  ≥  sig), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan. Hasil perhitungan uji korelasi antara motivasi belajar dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditampilkan dalam tabel 9.

Pada tabel korelasi di atas diperoleh variable motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa nilai sig. sebesar 0,014, kemudian dengan probabilitas 0,05, ternyata nilai probabilitas 0,05 lebih besar dari nilai probabilitas sig. atau (0,05 ≥ 0,014), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan. Terbukti bahwa motivasi belajar mempunyai hubungan secara signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

PEMBAHASAN

Untuk dapat mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa setelah pembelajaran konstektual perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana motivasi belajar siswa belum kegiatan pembelajaran dengan pembelajaran konstektual. Dari hasil penelitian, bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar siswa baik kelas dengan pembelajaran konvensional dan siswa dengan constextual teaching and learning.

Hal ini menegaskan bahwa sebelum perlakuan (constextual teaching and learning), motivasi belajar subjek penelitian relatif homogen. Kondisi ini sangat mendukung untuk megetahui seberapa besar pengaruh dari constextual teaching and learning terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data angket setelah pembelajaran, diketahui pula bahwa pencapaian serta peningkatan motivasi belajar  siswa yang mendapatkan constextual teaching and learning lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa constextual teaching and learning sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Hal ini salah satunya dimungkinkan karena adanya kesesuaian antara kegiatan pembelajaran dengan permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga matematika lebih aplikatif dan terasa manfaatnya oleh siswa dalam kehidupannya. Sebagaimana menurut Prabawanto (2009: 4) menyatakan bahwa contexstual teaching and learning dalam matematika merupakan konsep pembelajaran yang membantu para guru untuk mengkaitkan antara materi pelajaran dan situasi-situasi dunia nyata yang disimulasikan, dan memotivasi para siswa mengkaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, dalam pembelajaran konstektual pembelajaran dilaksanakan dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil, sehingga pembelajaran menjadi sebuah aktivitas yang bisa menjadikan siswa lebih unggul dari teman-temannya. Selain itu dalam kegiatan kerja kelompok untuk menemukan solusi dari permasalahn yang siswa hadapi, siswa saling bertukar pikiran, mengajukan dan menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa, siswa dengan guru dan narasumber lainnya, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Pada tahap penemuan solusi dari permasalahan yang dihapi oleh siswa, mereka terlihat semangat dan bekerja keras untuk mengkontruksi pengetahuan dengan cara menemukan dan mengalami sendiri secara langsung sehingga mereka menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Sebagaimana hasil penelitian Cobb (Waege, 2010: 84) bahwa siswa sekolah menengah di Norwegia, lebih termotivasi belajar matematika ketika pada tahapan inquiri pada pembelajaran matematika. Hal ini juga sesuai dengan indikator motivasi belajar yang dikemukakan oleh Abin Syamsudin Makmun (2007: 28) bahwa indikator motivasi belajar adalah durasi kegiatan belajar, frekuensi kegiatan belajar, ketekunan dalam belajar, ketabahan, keuletan, dan kemampuan menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan, tingkat aspirasi siswa dalam belajar, kesetiaan dan pengorbanan untuk meraih prestasi belajar, tingkat kualifikasi dan prestasi belajar, serta arah sikap siswa dalam belajar.

Dari hasil penelitian yang telah dikemukakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal pemecahan masalah matematis siswa antara kelas konvensional dengan constextual teaching and learning. Hal ini menegaskan bahwa sebelum perlakuan (constextual teaching and learning), kemampuan akademik subjek penelitian relatif homogen. Kondisi ini sangat mendukung untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari constextual teaching and learning terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, diketahui pula bahwa pencapaian serta peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan constextual teaching and learning lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa constextual teaching and learning sangat berpengaruh terhadap pencapaian serta peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Hal ini dimungkinkan karena adanya kesesuaian antara kegiatan yang dilakukan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan karakteristik soal-soal berbentuk pemecahan masalah yang diberikan. Selain itu dapat pula dimungkinkan karena constextual teaching and learning memuat tujuh komponen pembelajaran yang mendukung siswa lebih aktif dalam belajar, sehingga tercipta suatu lingkungan belajar yang kondusif. Tujuh komponen tersebut yaitu kontruktivisme (contructivism), penemuan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment).

Dengan adanya komponen kontruktivisme, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkontruksi konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika sesuai dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi. Siswa diarahkan untuk mampu mengkontruksi dan menemukan sendiri konsep-konsep materi yang sedang dipelajari melalui permasalahan-permasalahn yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga menciptakan kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna, bukan hanya sekedar transfer informasi saja. Sebagai mana menurut Jerome Bruner (Suherman, 1992: 170) belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang akan diajarkan saling terkait dan berhubungan dengan kemampuan awal siswa.

Adanya kegiatan diskusi kelompok dan diskusi kelas, memungkinkan siswa untuk saling berinteraksi satu sama lain, bertanya, menyampaikan pendapat, menanggapi pendapat siswa yang lainnya, dan menjelaskan hasil pekerjaannya di depan kelas. Hal tersebut dapat memacu siswa menjadi lebih aktif menggali potensi dalam diri mereka dalam rangka mencari jawaban apa yang dipertanykan.  Pertanyaan ini pula bisa membuat siswa lebih kritis dan logis untuk mencari keterkaitan satu sama lainnya.

Ketika siswa masih mengalami kebuntuan, guru membimbing siswa melalui pertanyan-pertanyan bimbingan (scaffolding). Kegiatan tersebut memungkinkan siswa mampu menemukan sendiri (inquiry) penyelesaian dari permasalahan yang dihadapinya.

Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan constextual teaching and learning memang lebih baik jika dibandingkan dengan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran konvensional, tetapi peningkatannya masih belum optimal, yaitu masih pada kriteria sedang. Mungkin ini disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan constextual teaching and learning dan dengan banyaknya kelompok dalam kelas mengakibatkan pemberian bantuan guru menjadi kurang optimal, terkadang tidak semua kelompok dalam kelas mendapatkan bantuan yang yang diperlukan.

Hasil penelitian tentang kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ini sesuai dengan asumsi sebelumnya, bahwa constextual teaching and learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hai ini sejalan dengan penelitian sebelumnya. Peneliti Slavin (2008) bahwa constextual teaching and learning dapat memacu perkembangan berpikir dan kemampuan pemecahan masalah, serta dapat memenuhi kebutuhan sosial dan prestasi akademik siswa lebih meningkat dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan sebelumnya, bahwa terdapat hubungan yang cukup kuat antara motivasi belajar dengan pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Adanya hubungan antara motivasi dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dimungkinkan karena motivasi dapat menggerakan atau menggugah sesorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meneyelesaikan permasalahan yang dihadapainya sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu, apalagi permasalahnya merupakan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga matematika lebih aplikatif dan lebih terasa manfaatnya oleh mereka.

Selain itu, dengan soal pemecahan masalah siswa menjadi termotivasi. Hal ini dapat dilihat bagaimana siswa menjadi lebih aktif , kreatif, sungguh-sungguh dan tekun dalam upaya mencari solusi dari permasalahan yang hadapinya. Sebagaimana menurut Sumiati (2009: 30) upaya untuk mengenali apakah siswa mempunyai motivasi tinggi atau rendah dapat dilihat dari kesungguhan, ketelitian, ketekunan dan banyaknya dia mengikuti kegiatan dalam proses belajar tersebut.

Bagi siswa menemukan solusi bukanlah satu-satunya tujuan dalam pemecahan masalah, namun bagaimana siswa bekerja dalam proses menemukan solusi menjadi bagian yang lebih penting. Siswa kerap kali mendapatkan kesempatan dalam memformulasi, menggeluti dan memecahkan masalah kompleks, berusaha keras dan ulet, dan harus didorong untuk mampu berpikir reflektif dari apa yang mereka lakukan dan peroleh. Sebagaimana menurut Herman (2006: 48) siswa harus menggunakan segenap pengetahuan, pengalaman, dan kemampuannya, sehingga melalui proses seperti ini, mereka seringkali menemukan pemahaman matematis baru.

Berdasarkan hasil dan pembahasan, pembelajaran konstektual dapat membuat siswa lebih aktif, kreatif dan termotivasi untuk belajar matematika. Sementara itu, motivasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematis memmpunyai hubungan yang signifikan, sehingga kedua komponen ini perlu diperhatikan oleh guru.

DAFTAR PUSTAKA

Herman, T. 2006. Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama. Tesis PPS UNPAS: Tidak diterbitkan.

Komalasari, K. 2010. Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasinya, Bandung : Aditama.

Makmun, Abin Syamsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Prabawanto, S. 2009. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematika Siswa. Makalah disampaikan pada Workshop Nasional PMRI untuk dosen S1 Matematika PSGD. Bandung: Tidak diterbitkan.

Purwanto, M. Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya.

Slavin, Robert E. 2008. Contextual Teaching and Learning : Teori, Riset dan Praktik, Bandung : Nusa Media.

Sumiati dan Asra .2009. Metode Pembelajaran, Bandung: Wacana prima.

Suryadi, Didi. 2009. Teori Evaluasi Pendidikan Bagian III Pendidikan Disiplin Ilmu. Dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata,N.S., Suidjana, D., dan Rasjidin, W (Penyunting),  Pendidikan Matematika. Bandung : Imtima (Halaman 159 – 186).

Waege, Kjersti. 2010. Motivation for Learning Mathematics in Terms of Needs and Goals. Programme for Teacher Education, Norwegian University of Science and Technology, Trondheim. Diakses pada tanggal 30-12-2011. http://www.inrp.fr/publications/edition-electronique/cerme6/wg1-06-waege.pdf.

Yaniawati, Poppy. 2011. E-Learning: Alternatif Pembelajaran Kontemporer, Bandung: Arfino Raya.

 

Tagged with:    

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + = 15