PC NU Kabupaten Bandung
Maslahat Tradisi dan Inovasi

Peranan Pondok Pesantren Nahjussalam Al-Musri I dalam Membina Mental dan Spiritual Masyarakat Desa Tegal Sumedang

Oleh : Sidik Permana, S. Sos.*

 Pengantar

Tulisan ini hendak mendeskripsikan peranan pondok pesantren Nahjussalam Al-Musri dalam membina  warga masyarakat di Desa Tegal Sumedang kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung hingga keadaan di masyarakat menjadi tentram dan harmonis.1 Dikatakan demikian, karena sebelum berdirinya pondok pesantren keadaan di dalam masyarakat relatif tidak tentram, tidak aman dan tidak harmonis, tingkah laku yang menyimpang seperti perkelahian, pemalakan, perjudian, dan mabuk-mabukan, penggunaan dan pengedaran narkoba dan obat terlarang  dan bentuk penyimpangan lainnya kerap kali terjadi. Akibat tingkah laku menyimpang atau tingkah laku yang tidak baik yang dilakukan oleh sebagian warga tersebut, aparat keamanan satuan polisi sektor (polsek) dan satuan Komando Rayon Militer Rancaekek (Koramil) pernah memberi label yang buruk terhadap warga masyarakat di Desa Tegal Sumedang sebagai sarang preman.

Namun, setelah berdirinya pondok pesantren Nahjussalam Al-Musri I pada tahun 1996 yang dipimpin oleh AA. Lukmanul Hakim AF dan para pengikut beliau yang langsung turun ke lapangan melakukan pendekatan dakwah secara halus dan lunak (non-coercive and accommodative approach) yakni mengajak dan membina baik orang maupun kelompok secara halus tanpa menimbulkan ketegangan, mengikuti adat kebiasaan yang berlaku kepada orang-orang yang menyimpang di masyarakat supaya mereka berubah menjadi orang yang baik dan mau kembali mematuhi norma agama (tobat). Alhasil pendekatan ini berhasil merubah tingkah laku warga masyarakat yang menyimpang, dan tidak sedikit pula orang-orang yang pernah terjun di dalam dunia hitam ataupun bekas preman baik yang berasal dari dalam desa maupun luar desa yang datang ke pondok pesantren Nahjussalam Al-Musri I untuk bertobat dan mempelajari ilmu tata cara beribadah serta belajar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pendekatan demikian dalam literatur-literatur gerakan dakwah tasawuf atau sufi disebut sebagai pendekatan kompromis (Simuh, 1999).

Pendekatan atau metode ini di dalam sejarah pergerakan dakwah Islam pernah dilakukan oleh para ulama tasawuf baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, di antaranya pernah dilakukan oleh ulama besar tasawuf yaitu, Syeikh Abdul Qodir Jailani di  negeri Irak dan Syeikh Ahmad Tijani di Maroko, Afrika Utara yang membuka pintu tobat selebar-lebarnya kepada orang-orang yang menyimpang di dalam masyarakat dan membawa mereka kembali kepada Allah. Di dalam ribath (tempat perkumpulan atau majelis ta’lim) yang mereka rintis dan kelola, mereka mendidik, membina dan menuntun orang-orang yang yang tidak baik menjadi pribadi yang sehat dan taat kepada Allah. Selain itu juga juga pernah dilakukan oleh wali sembilan (wali sanga) yang berjasa besar dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Sejarah Pendirian Pesantren

Cikal bakal berdirinya pondok pesantren dimulai pada tahun 1996, dengan diselenggarakannya pengajian di rumah sang pendiri pesantren yakni, AA. Lukmanul Hakim (panggilan untuk seorang Kyai di daerah Bandung biasa di panggil AA).2 Pengajian yang diselenggarakan  pada waktu itu menjadi wadah yang positif bagi orang-orang tidak tersentuh oleh para mubaligh yang ada di Desa Tegal Sumedang. Berangsur-angsur orang-orang yang mengikuti pengajian yang dipimpin oleh AA menjadi bertambah dan tidak tertampung. Dari sekian banyak orang-orang yang mengikuti pengajian ini menimbulkan gagasan untuk membangun pondok pesantren. Menimbulkan pemikiran untuk membangun pondok pesantren, maka melalui hasil usaha swadaya masyarakat, sumbangan para donatur dan kerjasama masyarakat, gagasan untuk membangun pondok pesantren akhirnya dapat terwujud pada tahun 2003. Meski pada waktu itu pemerintah ikut andil memberikan bantuan dana, namun bantuan dana yang diberikan tidak begitu besar jika dibandingkan dengan sumbangan donatur dan masyarakat.

Disela-sela pembangunan pondok pesantren tersebut, AA dan para pengikutnya dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman dan kurang menguntungkan, karena pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Tegal Sumedang beserta para pengikutnya bukannya memberikan restu dan dukungan pendirian pondok pesantren, tetapi sebaliknya menghalangi pendirian pondok pesantren. Namun, sikap pimpinan MUI tersebut tidak menjadi benteng penghalang bagi AA dan para pengikutnya untuk terus melanjutkan pembangunan pondok pesantren, meski tanpa dukungan dan restu dari pimpinan MUI.  Pada situasi yang sulit ini, AA dan para pengikut mendapat dukungan dari beberapa tokoh kampung (Kokolot Kampung) yang membela dengan berani dan tegas. Secara bertahap akhirnya pembangunan pondok pun dapat terselesaikan di tahun 2004. Setelah pembangunan pondok pesantren yang meliputi pembangunan madrasah, kamar tidur santri, dan kamar mandi selesai di tahun 2004 selesai.  Berangsur-angsur para pelajar Islam (santri) dari luar daerah berdatangan untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama seperti dari Cililin, Purwakarta, Cianjur, dan Jakarta.

Strategi Dakwah : Pendidikan Bagi Santri dan Masyarakat

Seperti yang telah dikemukan dimuka, AA dalam berdakwah menggunakan pendekatan yang halus dan tidak bertentangan dengan pokok-pokok syariat Islam, dalam artian mengajak orang-orang untuk kembali kepada jalan Allah secara perlahan hingga ia mengerti dan memahami agama. Dalam melakukan dakwahnya AA menggunakan sarana kebiasaan yang disukai oleh masyarakat dalam setiap pertemuan dan berkumpul (ngariung) seperti dalam acara makan bersama (ngaliwet), ngopi dan merokok bersama, catur, karambol, dan tenis meja. Ketika AA berbicara dengan seseorang atau beberapa orang yang berprofesi sebagai petani padi, maka yang dibicarakan adalah masalah irigasi, pembibitan, kondisi lahan, dan lain sebagainya. Sedangkan ketika beliau bertemu dan berbicara dengan orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang maka yang dibicarakan adalah masalah untung-rugi, dan modal.  Cara seperti ini dilakukan juga oleh beliau ketika berbicara dengan orang-orang yang dikatakan tidak baik (preman), yang tidak tersentuh atau tidak terbimbing oleh para ulama atau ustadz terdahulu, misalnya dalam mengajak orang-orang yang kecanduan alkohol beliau tidak melarang secara keras untuk berhenti minum sekaligus, tapi beliau memberikan saran kepada orang tersebut untuk berhenti minum secara bertahap.  Misalnya jika seorang pemabuk terbiasa minum satu botol minuman keras setiap hari, maka beliau menganjurkan untuk minum satu gelas perhari, setelah si pemabuk mampu menjalani minum satu gelas per hari. Maka AA menyarankan untuk minum satu gelas per minggu dan seterusnya, sampai akhirnya orang yang kecanduan alkohol berhenti minum. Sesudah orang yang kecanduan alkohol berhenti, beliau pun secara halus memberikan nasehat-nasehat keagamaan yang disesuaikan dengan tingkat keimanannya.

Dalam berdakwah di masyarakat AA melibatkan para santri, baik santri yang sedang belajar maupun yang sudah menjadi alumni untuk membimbing dan mendidik warga masyarakat. Biasanya para santri ini datang mengunjungi orang-orang yang tengah dibimbing, kemudian berdiskusi membicarakan agama sambil merokok dan minum kopi serta makan nasi liwet. Acara diskusi membicarakan masalah agama biasa ditemani kopi hitam dan rokok, yang sudah menjadi ritual yang dapat dikatakan harus selalu ada. Kegiatan acara diskusi agama ditemani kopi hitam dan rokok di malam hari seolah-olah menjadi semacam bentuk pengikat di dalam kelompok yang menyatukan individu-individu ke dalam jalinan suasana kekerabatan. Dari bentuk acara diskusi ditemani rokok dan kopi, orang-orang secara rutin pada hari Kamis malam Jum’at mengikuti majelis dzikir Attaqoh yang dimulai sekitar pukul 20.30 dan berakhir pada pukul 22.30. Kegiatan yang sudah lama berjalan ini, bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, melalui tawasul (wasilah) kepada para nabi dan para wali. Biasanya sebelum dzikir, AA terlebih dahulu memberikan tausiah keagamaan selama kurang lebih 30 menit yang berisikan nasehat atau pelajaran tentang cara-cara beribadah kepada Allah yang benar berdasarkan ilmu fikih, pelajaran tentang cara-cara membersihkan hati supaya terhindar dari penyakit hati seperti ujub, riya, dan takabur berdasarkan ilmu tasawuf,  dan pelajaran aqidah yang benar menurut ilmu tauhid. Setelah tausiah keagamaan selesai kemudian dzikir pun dilakukan.

Kegiatan lain yang diselenggarakan oleh pesantren Nahjussalam Al-Musri adalah penyelenggaraan pengajian atau pendidikan ilmu-ilmu agama (Majlis Ta’lim) baik bagi anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Pengajian anak-anak biasa dilakukan pada waktu sore hari sekitar pukul 05.00 dan setelah shalat Magrib sekitar pukul 06.30 sampai pukul 8.30 malam. Pelajaran yang diberikan meliputi hapalan surat-surat pendek (juz ama), dan praktek membaca Al-Qur’an. Sementara waktu pengajian bagi remaja dilakukan pada waktu setelah Shubuh, setelah Ashar sekitar pukul 17.00 dan setelah Maghrib sekitar pukul 18.30 sampai pukul 20.30. Untuk jenjang usia remaja pelajaran yang diberikan antara lain ilmu tauhid, ilmu tasawuf, ilmu tajwid, ilmu etika, ilmu bahasa arab, dan ilmu fikih.  Dari peserta didik (santri) yang belajar di pesantren dapat dibagi ke dalam dua golongan yaitu golongan santri netep dan golongan santri ngalong. Pertama golongan santri tetep yaitu santri yang tinggal, makan dan minum serta tidur dalam kamar (kobong) yang telah disediakan di pesantren. Kedua, golongan santri ngalong yaitu santri yang tidak tinggal, tidak makan dan minum serta tidur di pesantren, hal demikian disebabkan karena letak rumah mereka yang relatif dekat dengan pesantren sehingga mereka tidak perlu tinggal, makan dan minum serta tidur di pesantren layaknya santri netep.3

 Kelembagaan Pesantren: Tantangan dan Harapan

Laju modernitas dari Barat menyebabkan perubahan besar dalam tatanan kehidupan masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia, tak terkecuali dengan Indonesia sebagai negara pemeluk Islam terbesar di dunia ikut terkena dampak dari perubahan tersebut. Dampak dari perubahan itu menyebabkan pesantren-pesantren yang ada di Indonesia harus mampu berbenah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, semangat dan dukungan akan penyesuaian diri terhadap tuntutan zaman pernah dikemukakan oleh KH. Surya sebagai salah seorang guru tarekat di Banten, beliau mengatakan “kudu bisa ngigelan zaman” (harus bisa menyesuaikan diri dengan zaman).  Jika tidak dapat menyesuaikan diri maka akan tertinggal dan tersisih oleh laju perkembangan masyarakat. Hal ini tampak dari banyaknya pondok pesantren yang sebelumnya hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama kini ikut menyertakan pendidikan luar agama di bawah naungan pesantren mereka seperti penyelenggaran pendidikan SD, SMP, dan SMA serta perguruan tinggi. Di antara sekian banyak pesantren yang merubah kelembagaan mereka menjadi modern misalnya pondok pesantren Gontor di jawa Timur, Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur, Suryalaya di Tasikmalaya, Buntet di Cirebon, dan masih banyak yang lainnya.

Adapun penyesuaian akan tuntutan zaman yang dilakukan di pondok pesantren Nahjussalam Al-Musri adalah dengan memodifikasi kelembagaan menjadi yayasan, mungkin disadari maupun tidak disadari hal ini juga berlaku bagi pesantren-pesantren yang lain di Indonesia (Simuh, 1999 & Woordward 1999). Modifikasi atau inovasi yang dilakukan adalah berpegang pada suatu keyakinan bahwa dengan pengorganisasian yang baik  dan modern diharapkan kemajuan agama dan dakwah islamiyah dapat tercapai. Meskipun ada beberapa pengamat tasawuf yang berpendapat bahwa modernitas akan mengikis nilai-nilai tradisi kepesantrenan yang hidup, karena pemikiran modern yang bersifat rasional dan dinamis secara langsung maupun tidak langsung merupakan ancaman bagi nilai-nilai tradisi kepesantrenan yang taat pada guru, irasional, dan ghaib. Namun, hal ini dapat dihindari dan diredam dengan meletakan kelembagaan (nilai-nilai, dan aturan serta tradisi) pesantren di atas kelembagaan yayasan. Jadi dibentuknya kelembagaan yayasan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan pesantren. Dengan demikian kelembagaan pesantren akan tetap terpelihara dan hidup. Sehingga peran pesantren sebagai lembaga pengajaran dakwah akan dapat terus berjalan sesuai tuntutan zaman.

 Kesimpulan

 Keberadaan Pondok Pesantren Nahjussalam al-Musri I sebagai lembaga pengajaran dan dakwah Islamiyah tidak bisa melepaskan diri dari lembaga atau intansi pemerintah maupun non-pemerintah dalam membina dan membangun mental serta spiritual masyarakat. Apalagi dengan berubahnya struktur kelembagaan yang kini menjadi yayasan, kerjasama dan bantuan instansi pemerintah sangat diperlukan sehingga peranannya dalam dakwah dan pengajaran ilmu-ilmu agama kepada masyarakat dan khalayak umum akan tercapai.

Disamping itu, suatu tantangan yang berat jika kita berbicara dakwah di pada masa sekarang ini. Hal itu terjadi, karena orang-orang zaman sekarang cenderung berfikir materialistis, dan mengejar keduniawian semata. Menyikapi hal itu, seperti yang telah dikemukakan dimuka untuk mengembalikan dan menghidupkan nilai-nilai, dan ruh serta semangat keagamaan di dalam masyarakat penggunaan metode tasawuf yang lunak dalam berdakwah (pendekatan kompromis dan akomodatif) mutlak diperlukan, untuk memperbaiki moral umat ditengah kehidupan yang cenderung serba materialistis dan menyebarnya  faham keagamaan yang bersifat radikal dan koersif yang  mengikis dan merusak tatanan kehidupan yang sudah harmonis. Hal itu,  tidak sesuai dengan aqidah ahlussunah wal jamaah dan ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara kita yakni pancasila dan UUD 45.

 Catatan kaki:

1 Pondok pesantren Nahjussalam Al-Musri adalah cabang dari pondok pesantren Miftahul huda   Al-Musri Cianjur.

2AA. Lukmanul Hakim AF. adalah murid Alm. Mama Ahmad Faqih pendiri pondok pesantren Miftahul Huda Al-Musri Ciranjang, Cianjur Jawa Barat. Beliau lahir di Dusun Bunter Desa  Cihanjuang Kec. Cimanggung Kab. Sumedang pada tanggal 14 Huli 1968 dilahirkan dalam keluarga alim ulama, KH. Ahmad Sodiq seorang mursid besar Tarekat Tijani adalah paman beliau, sehingga pada waktu usia muda beliau sudah mumpuni dalam ilmu agama. Mengenyam pendidikan di beberapa pesantren besar di pulau Jawa, dan pondok pesantren Miftahul Huda Al-Musri merupakan pesantren terakhir pengembaraan ilmu agama beliau.

3 Saat ini jumlah santri secara keseluruhan adalah kurang lebih  40 orang terdiri santri perempuan 20 orang dan  santri laki-laki 19 orang.

    

*Alumni Antropologi FISIP UNPAD

Sekretaris di Yayasan Pondok Pesantren Nahjussalam Al-Musri

Sekretaris Ranting NU Tegalsumedang Kec. Rancaekek Kab. Bandung

 

About the author /


1 Komentar

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

97 − = 88